Pencurian sering terjadi di mana-mana, dan caranya pun kini mulai beragam. Mahasiswa kini kerap menjadi incaran sindikat pencurian motor yang semakin merajalela. Sungguh sangat disayangkan bukan?  Dan inilah cerita singkat saya akan kejadian yang baru saja saya alami, tentunya bukan sang pencuri yang tak bermoral dan berperikemanusiaan, tetapi sebagai korban naas yang kehilangan sepeda motornya.

Tanggal 22 Februari 2014 sekitar pukul 5.19 pagi saat itu, saya berada di bundaran Pascasarjana UGM menunggu teman saya, Mas Arma (Teknik Sipil UGM). Kami berencana pergi bersama. Tidak hanya berdua, rencananya Mas Arma juga mengajak teman-temannya yang lain. Kemudian saat sendirian menunggu Mas Arma, sebuah sepeda motor Jupiter MX yang dinaiki dua orang—yang saya sendiri tidak mengenalnya—menghampiri saya.

 

Keterangan:

P1         = Pelaku 1

P2         = Pelaku 2

K          = Korban (saya)

 

P1         = “Mas, lagi nungguin teman ya?”

K          = “Iya, mas.”

P1         = “Lagi nungguin Mas Arma?”

K          = “Iya, mas.”

(Dalam hati saya, kok dia bisa tahu? Saya pikir, berarti ini mungkin temannya Mas Arma)

K          = “Temennya Mas Arma ya?”

P1 & P2 = “Iya, mas.”

K          = “Mas Armanya mana?”

P1         = “Mas Armanya lagi nunggu. Tadi katanya kumpulnya bukan di sini, kok bilang ke kamunya kumpul di sini sih?”

K          = “Oh gitu. Terus gimana, Mas?”

P1         = “Yaudah kita kesana dulu.”

Saya percaya bahwa mereka temannya Mas Arma karena mereka tahu kalau saya sedang menunggu teman dengan nama Mas Arma, kemudian saya memutuskan untuk mengikuti mereka menuju pintu masuk lembah UGM.

P1         = “Lho kok Mas Armanya belum datang? Bentar saya sms dulu Mas Arma nya.”

(Sambil mengeluarkan HP dan mengetik sms entah ke siapa)

P1         = “Waduh HP saya error, boleh pinjem hapenya nggak, Mas?”

(Sembari menunjukan HP yang benar-benar error)

K          = “Nih mas.”

(Saya meminjamkan HP saya dengan mode sms yang sudah saya bukakan, tapi isinya masih saya kosongkan)

(P1 mengetik tidak jelas, salah mengetik nomer HP)

Di sini saya belum curiga, saya pikir, mungkin dia tidak bisa memakai HP saya. Kemudian saya memutuskan untuk membantu mengetikkan smsnya.

K          = “Sini mas, saya yang sms saja.”

(Saya sms Mas Arma kalau saya menunggunya di Lembah, kemudian sms saya dibalas bahwa posisi Mas Arma sekarang di Sardjito, tak lama kemudian saya mendapat balasan lagi yang membuat saya sendiri heran, dalam sms tersebut tertulis, “Lembah?”)

Setelah saya memberi tahu mereka bahwa posisi Mas Arma di Sardjito, tiba-tiba..

P1         = “Mas, saya jemput saja Mas Armanya ya,”

(Lalu mereka menyalakan motor, tapi motor Jupiter MX tersebut mogok)

P1         = “Mas, motorku kok nggak mau nyala ya? Boleh pinjam motornya nggak?”

(Saya mulai curiga, dalam hati saya ingin sekali tidak mengizinkan meminjamkannya, tapi entah kenapa mulut saya berkata lain)

K          = “Emmm, ya udah mas, nih.”

P1         = (Sambil membawa motor saya) “Hei P2, temenin masnya dulu di sini ya.”

P2         = “Oke.”

Seketika firasat saya sangat buruk dan sadar barusan telah tertipu/terkena gendam.

Saya berusaha menahan P2 agar tidak kabur. Saya mengajaknya mengobrol dengan bertanya berbagai hal, dilihat dari jawabannya sudah jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah teman Mas Arma.

Saya juga sempat melihat plat motor pelaku, di bagian belakang motor tidak terdapat plat sedangkan di bagian depan motor tertulis AA, tapi sudah sedikit rusak dan bisa dipastikan itu palsu. Saya sempat inisiatif mengambil gambar wajah P2. Tapi, ketika saya hendak menekan tombol shutter, saya langsung berubah pikiran tidak jadi memotret ketika P2 mengeluarkan beberapa kata yang membuat saya membatalkannya. Tapi saya tetap menahan P2 agar tidak kabur.

P2         = “Mas, nggak ada angkringan yang buka ya?”

K          = “Ya, iyalah mas masih pagi gini.”

P2         = “Mas, mau teh anget atau kopi ga?”

(Saya sadar bahwa P2 ingin kabur)

K          = “Oh nggak usah mas, nanti kita beli bareng-bareng aja.”

Selang beberapa saat..

P2         = “Mas, saya mau beli minum dulu ya di situ.” (Sambil menunjuk sebuah warung)

(Dalam hati saya tolak karena tahu si pelaku ini pasti hendak kabur tapi entah kenapa dengan sangat berat, mulut saya tetap mengizinkannya)

K          = “Oh, iya mas.”

P2 berjalan perlahan dengan motor Jupiter MXnya yang ternyata dari tadi sudah bisa dinyalakan kembali. Setelah beberapa meter dia melaju, saya sadar dia hendak kabur, lalu saya kejar tapi P2 malah langsung tancap gas.

 

Yang sangat membuat saya heran, kok mereka bisa tahu nama Mas Arma? Kenapa antara pikiran dan mulut saya berkata berlainan? Sepertinya saya telah terkena gendam (semacam hipnotis).

Secara pribadi, bagi saya kejadian ini merupakan pengalaman yang sangat mengenaskan, tetapi juga dapat diambil hikmahnya bagi orang lain sebagai sebuah pesan penting. Ya, pesan untuk lebih berhati-hati terhadap orang yang baru kita kenal, dan memang belum kita yakini bahwa mereka orang yang baik. Namun, bukan berarti kita harus mencurigai semua orang. Selektif, lebih berhati-hati, dan selalu berdoa dapat kita jadikan acuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.