Indonesia memiliki kurang lebih 150 gunung berapi aktif yang berpotensi erupsi setiap tahunnya. Pada tahun 2010, Indonesia mengalami 100 gempa bumi berkekuatan 5 SR. Bencana banjir juga sudah menjadi seperti rutinitas di beberapa daerah di Indonesia, termasuk yang terjadi di Jakarta awal 2013 lalu. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mengembangkan sistem penanganan bencana baik pada taraf pencegahan maupun penanggulangan bencana. Pemanfaatan teknologi informasi dan robotika menjadi sangat diperlukan terutama untuk mencapai daerah yang sulit atau bahkan tidak dapat dijangkau oleh manusia.

Untuk membantu proses penanganan pasca bencana, perlu dikembangkan sistem khusus untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya dengan mengembangkan sistem koordinasi dan kendali formasi multi UAV quadrotor. Sistem ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja multi UAV dalam melakukan pencarian korban bencana alam atau melakukan penyisiran di wilayah tertentu. Untuk itu, tim yang diketuai oleh Ishak Hilton Pujantoro Tnunay (Teknik Elektro 2011), Ahmad Ataka Awwalur Rizqi (Teknik Elektro 2010), Muhammad Faris (Teknik Elektro 2010), M Qodar Abdurrohman (Teknik Elektro 2011), dan Dwi Retno Puspita Sari (Teknologi Informasi 2012) berinisiatif mengembangkan sistem multi UAV ini di bawah bimbingan Bapak Adha Imam Cahyadi, S.T., M.Eng., Dr.Eng. Penelitian mengenai sistem ini menggunakan metode studi literatur dari berbagai sumber, perancangan alat, simulasi, implementasi dan evaluasi.

Sistem ini terdiri dari 3 bagian utama, yakni perancangan sistem navigasi multi sensor, algoritma path-planning, dan yang terakhir algoritma formasi multi UAV.

“Algoritma yang kami kembangkan ini nantinya mampu untuk menghindari rintangan seperti pohon atau bangunan runtuh, selain itu dengan algoritma ini, quadrotor dapat memilih dan membentuk formasi yang paling tepat untuk proses mitigasi bencana dengan kondisi yang berbeda-beda”, tutur Ataka.

Untuk saat ini, tahap simulasi sudah berhasil dilakukan tim ini. Selanjutnya, mereka berencana untuk mengimplementasikannya pada beberapa quadrotor Parrot AR Drone 2.0 yang tersedia di Laboratorium Instrumentasi dan Kendali.

“Kami berharap, sistem yang telah kami kembangkan nantinya dapat diaplikasikan pada multi UAV yang telah ada, untuk mengoptimalkan proses mitigasi bencana di wilayah Indonesia”, ujar Hilton.