Parkir, Kantin dan Kurikulum Baru

Selasa(11/10) lalu telah diadakan FORWATI(Forum Warga DTETI) 2016 yang  dilakasanakan di Ruang E6 DTETI UGM. FORWATI merupakan agenda tahunan berupa forum penampung aspirasi yang bersifat dua arah, baik dari departemen dan seluruh warga DTETi. Diadakannya Forwati ini di harapkan dapat memberikan solusi terhadap problem-problem di lingkungan DTETI serta mendukung terciptanya lingkungan  departemen yang lebih baik. Oleh karena itu segala saran dan kritik dapat disampaikan melalui forum ini.

Forum dimulai pukul 09.30 WIB dengan didahului sambutan ketua KMTETI Ilham Muawwal  Subhan, dilanjutkan sambutan perwakilan departemen yaitu Dr. Eng. Adha Imam Cahyadi, S.T., M.Eng.  Kali ini forum di moderatori oleh Dr. Prapto Nugroho, S.T, M. Eng dengan tiga topik utama mengenai permasalahan yang diperoleh melalui kuesioner. Adapun tiga topik utama tersebut adalah transisi kurikulum, terbatasnya lahan parkir, dan ditiadakannya kantin.

Dalam topik yang pertama, diterangkan bahwa dalam transisi kurikulum ini tidak diberlakukannya kurikulum lama dan berlakunya kurikulum baru di masa transisi dirasa mengakibatkan mahasiswa kembali beradaptasi dengan kurikulum. Misalnya saja mata kuliah yang diberikan pada mahasiswa pada kurikulum baru, namun mata kuliah dasarnya tidak diberikan pada semester sebelumnya. Menjawab permasalahan tersebut, adanya kurikulum baru ini sebaliknya bertujuan untuk menyiapkan lulusan yang akan lebih tertata kompetensinya. Adapun solusi untuk pengadaan mata kuliah ISIS untuk prodi teknologi informasi, pihak jurusan telah mengusahakannya dengan diadakannya tutorial yang diampu oleh dosen muda. Tutorial merupakan wadah untuk mahasiswa berlatih soal, sehingga pada sesi tersebut mahasiswa dapat menanyakan berbagai masalah dalam mata kuliah tersebut.

Topik kedua membahas mengenai terbatasnya lahan parkir. Tidak dapat dipungkiri bahwa DTETI merupakan departemen yang memiliki sedikit lahan di Fakultas Teknik. Pengadaan lahan parkir untuk departemen saat ini tengah dalam proses. Hal ini akan memakan waktu yang cukup lama dikarenakan problem dalam administrasi dan perlunya kehati-hatian dalam pengadaan lahan tersebut. Adapun gambaran parkir yang di rencanakan kurang lebih akan tampak seperti lahan parkir baru yang ada di Malioboro.

Topik utama yang terakhir yaitu mengenai ditiadakannya kantin di DTETI. Terdapat dua alasan yang mendasari peniadaan kantin terhitung sejak awal tahun. Alasan pertama yaitu lahan tempat berdirinya kantin akan digunakan sebagai lahan parkir yang telah dijelaskan pada poin sebelumnya. Kemudian yang kedua, kantin yang berada di departemen keberadaannya adalah ilegal. Pasalnya kantin tersebut tidak memiliki surat legalitas yang sah dan tidak membayar pajak ke negara melalui UGM. Sedangkan untuk melegalkan keberadaan kantin tersebut membutuhkan proses yang panjang serta biaya yang tidak sedikit bagi pemilik kantin. Peniadaan kantin di DTETI tidak lantas membuat DTETI kehilangan kantin, karena masih terdapat kantin teknik yang dapat dikunjungi. Selain itu di departemen dapat diadakan kantin kejujuran yang merupakan kegiatan dari KMTETI dan bukan berbentuk kantin yang besar karena di khawatirkan akan menimbulkan problem yang sama.

Setelah pembahasan dari tiga topik utama, selanjutnya yaitu pembukaan pertanyaan untuk out of topic. Terdapat empat pertanyaan yang disampaikan oleh audien, yang pertama yaitu mengenai pergantian DPA. selanjutnya adalah kurang kondusifnya mata kuliah yang diadakan pada pukul 15.30 WIB. Hal ini dilansir pada jam tersebut digunakan untuk kegiatan mahasiswa non akademis, selain itu juga pada jam tersebut oleh mahasiswa banyak digunakan untuk mengerjakan tugas. Problem ini tidak terlepas dari keterbatasannya ruang di departemen dengan jumlah mahasiswa yang banyak, sehingga sebagai dampaknya pembagian waktu mata kuliah sampai dengan sore hari. Pertanyaan terakhir yang disampaikan memiliki dua poin yakni yang pertama adalah ketika ujian (Close book) dilaksanakan tidak jarang masih ada mahasiswa yang diperbolehkan keluar padahal seharusnya kondisi tersebut kurang sesuai dengan aturan selama ujian berlangsung. Oleh karena itu pengawas dimohon untuk dapat menciptakan dan merealisasikan suasana tenang bagi peserta ujian. Selanjutnya yang terakhir yaitu berlakunya kelas paralel sejak tahun lalu dirasa tidak terlalu memberikan pengaruh dalam penilaian dosen.

Demikianlah beberapa diskusi masalah yang telah disampaikan dalam Forwati 2016 kali ini, semoga dengan forum tersebut permasalahan-permasalahan yang ada dapat segera teratasi dan membawa DTETI lebih baik lagi. (-sasa)