Technocorner – Seminar Nasional merupakan salah satu dari rangkaian acara dalam Technoconer 2016 yang digelar di Ruang Utama Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada pada tanggal 12 Maret 2016. Acara yang digelar oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ini tepat dibuka pukul 09.50 WIB dengan menggunakan video opening.
Dengan Bagas Maulana Sutardi dan Faroh Nur Alfani sebagai pembawa acara, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Gigih Setyawan sebagai ketua panitia, lalu Bapak Heriyanto dan Bapak Ahmad Agus Setiawan sebagai perwakilan Rektor Universitas Gadjah Mada. Sebagai moderator, Reyhan Aditrea dari Simpleve pun membuka sesi.

Pembicara pertama adalah Intan Ahmad sebagai Direktur Jenderal Pembelajaran dan Pendidikan Tinggi. Pertama dalam menghadapi MEA, ada beberapa tantangan yang dihadapi, seperti kemampuan dalam berbahasa Inggris kita yang masih dibawah rata – rata. Padahal Indonesia memiliki potensi yang sangat besar seperti banyaknya penduduk dan banyaknya kekayaan alam. Bahkan, sangat memungkinkan bahwa pada tahun 2030, Indonesia akan menjadi Negara ketujuh dengan ekonomi terkuat di dunia. Untuk mencapai hal itu, dibutuhkan tenaga kerja yang berkualitas dan terampil.
Kewirausahaan yang tinggi juga menjadi salah satu alasan suatu Negara dapat memiliki ekonomi yang kuat. Indonesia mempunyai banyak sekali pengangguran. Padahal banyak sekali terjadi pertukaran data pada internet di Indonesia. Untuk itu, dalam menggunakan internet, kita harus berpikir kritis dan juga kreatif. Mahasiswa dari program studi berakreditasi unggul dituntut untuk menjadi wirausaha. Ada banyak usaha dalam bidang TIK yang dilakukan Indonesia, seperti SPADA, INHERENT dan juga startup – startup lain di Indonesia seperti Gojek, Kaskus, Tokopedia, Traveloka dan lain – lain.

Pada sistem pembelajaran universitas di luar negeri, mereka membiasakan mahasiswanya untuk berwirausaha. Untuk itu peranan dosen dan institusi sangat besar. Untuk menjadi technopreneur, dibutuhkan sifat technology savvy dan pemikir yang kreatif. Masyarakat juga harus berkolaborasi dengan pemerintah untuk fokus menyelesaikan masalah yang terjadi. Selain itu, kita juga perlu mempelajari ilmu dan pengetahuan di luar bidang atau keahlian kita.

Pembicara selanjutnya Bapak Erwin Sukiato dari PT Oracle Indonesia. Tema yang diangkat oleh beliau adalah “Digital Makes US Smarter”. Tanpa kita sadari, bayak sekali perubahan dalam kehidupan kita sehari – hari. Mulai dari komunikasi yang tadinya menggunakan telepon sudah diganti dengan aplikasi seperti WhatsApp. Saat ini kita harus memikirkan cara untuk membangkitkan rasa leadership lewat dunia digital. Lima hal yang penting dalam bisnis di dunia digital adalah big data, yang memungkinkan adanya social media, mobile, social, cloud dan video. Salah satu yang ditawarkan oleh Oracle adalah Oracle Academy.

Pembicara ketiga adalah Mohammad Rinaldi dari Intel, yang membicarakan Internet of Things. Maker Movement adalah suatu gerakan mulai dari anak – anak yang dibiasakan untuk membuat sesuatu. Mereka diajarkan untuk membuat sesuatu dengan trigonometri. Pada sesi ini ditampilkan pula video mengenai seorang anak dari Amerika yang karena lingkungan sekitarnya, ia membuat suatu penemuan. Dan pada saat ini dia menjadi orang ketiga di dunia yang berpengaruh bagi orang lain. Menurut beliau, IoT dari sedikit komputer dulu, kita sekarang bise memiliki banyak hal.

Pembicara terakhir merupakan perwakilan dari Kudo Indonesia yaitu Sofian Hadiwijaya. Beliau memberi prediksi bahwa akan ada 200 milyar devices yang akan terkoneksi pada tahun 2020. Banyak hal yang bisa menjadi wireless pada tahun – tahun ke depan seperti pada bidang bisnis, kesehatan, retail, keamanan dan transportasi. Dalam Internet of Things, banyak hal yang harus diingat adalah untuk selalu mengingat bahwa teknologi harus dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya, yaitu teknologi yang mengendalikan manusia.

Seminar berakhir dengan penampilan dari Electroformation. Harapannya, seminar kali ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas dan bangsa Indonesia.